Selasa, 25 Agustus 2009


Manusia = Buah Kelapa, Kok Bisa?

Oleh Nur Laili Afrida*

Pohon kelapa mungkin tidak asing lagi bagi kita terutama buahnya yang banyak dimanfaatkan menjadi santan untuk memasak atau menjadikannya minuman segar saat buah mash muda. Sebenarnya tanpa kita sadari di dalam proses pembentukan buah kelapa terdapat makna filosofi yang mendalam. Jika diperhatikan terbentuknya buah kelapa atau dalam bahasa jawa disebut dengan krambil mengalami proses yang cukup panjang.

Kapankah buah kelapa itu dinamakan krambil? Tentunya ketika buah kelapa tersebut sudah besar,dan berisi, terbentuk sempurna. Kita sering mendapati bakal buah yang disebut dengan bluluk, yaitu bakal buah kelapa yang terjatuh saat masih kecil dan tidak ada isinya, ini belum dapat dinamakan krambil. Atau kita sering mendapati juga yang namanya cengkir yaitu buah kelapa yang hampir sempurna namun isinya belum terbentuk. Mungkin juga kita mendapati buah kelapa walau sudah terbentuk isinya namun masih berupa lendir yang biasa disebut dengan degan dan kemungkinan pula buah kelapa yang sudah terbentuk dirusak oleh hewan sehingga berlubang dan akhirnya jatuh. Buah kelapa yang rusak dan terjatuh itu dinamakan cumplung.

Untuk bisa menghasilkan buah kelapa yang baik dan berkualitas dibutuhkan perwatan yang berkualitas pula. Lokasi tempat pertumbuahn harus cocok dan juga harus terbebas dari serangan hama. Lokasi yang tidak cocok bisa mengakibatkan buah tidak terbentuk sedangkan serangan hama dapat menyebabkan bakal buah tidak bisa menjadi krambil mungkin hanya akan menjadi bluluk yang jatuh, cumplung yang berlubang, atau krambil dareh yang tidak ada santannya.

Bluluk yang jatuh dari pohon hanya dibuang oleh petani atau menjadi mainan anak-anak. Cumplung yang kosong juga akan dibuang oleh petani atau mungkin dijadikan bahan bakar. Sedangkan krambil dareh tidak bisa diambil santannya.

Buah kelapa yang sempurna terdiri atas serabut kelapa di bagian paling luar, di bagian yang lebih dalam terdapat lapisan yang keras biasa disebut batok, kemudian di dalamnya lagi terdapat isi kelapa dan di bagian paling dalam terdapat air kelapa. Serabut membungkus batok, batok membungkus isi, isi membungkus air. Jika kjta perhatikan kesemuanya itu tidak pernah terbolak-balik. Batok tidak pernah berada di sisi paling luar apalagi airnya. Seandainya airnya berada di bagian luar tentunya rasanya tidak akan segar karena sudah terkontaminasi dengan udara bebas.

Manusia merupakan ciptaan Allah yang sangat ajaib. Betapa tidak, secara dhohir manusia dianugerahi anggota badan yang sungguh mengagumkan. Jari-jemari tidak akan dapat memegang benda dengan sempurna ketika jempol tidak ada. Namun, yang lebih mengagumkan yaitu apa yang ada di balik anggota tubuh manusia. Di balik lahiriyah manusia ada batiniyah yang tidak nampak oleh mata namun nyata sekali keberadaannya.

Manusia dianggap sebagai manusia utuh tatkala lahir dan batin manusia itu ada dan sempurna. Seseorang yang hanya memiliki unsur lahiriyah saja hanya berupa seonggok daging disebut jism. Sebaliknya seseorang yang hanya berupa ruh tanpa ada tubuhnya juga tidak bisa lagi disebut manusia.

Allah menciptakan lahir dan batin supaya manusia menjadi manusia ang sempurna di hadapanNya dan dunia ini diciptakan Allah bagi manusia untuk bisa menyempurnakan kemanusiaannya. Sebab hanya manusia yang sempurna yang bisa menjadi kekasih Allah dan hanya manusia yang sempurna yang dapat memberikan manfaat yang maksimal.

Kalau diibaratkan buah kelapa, janganlah kita mencapai derajat bluluk saja. Sebab bluluk itu hanya berupa serabut kelapa yang belum berisi, tidak ada batok, isi dan airnya. Bluluk hanya akan dicampakkan oleh Sang Pencipta. Manusia yang berderajat bluluk akan puas hanya dengan memiliki seonggok badan. Bangga dengan kecantikannya, ketampanannya, atau kegagahannya. Padahal kecantikan, ketampanan, kegagahan tak ubahnya seperti serabut kelapa pada buah kelapa.

Kita tidak boleh pula hanya mencapai derajat cumplung. Meskipun semula sudah berisi, namun kalah oleh serangan hama. Kerusakan tersebut menyebabkan cumplung tidak bisa berkembang sempurna. Orang yang batinnya telah rusak atau bahkan mati hanya akan menjadi sampah masyarakat. Oleh karena itu sekecil apapun isi (batin) kita harus dipertahankan supaya dapat berkembang menjadi krambil.

Dalam kata-kata bijak disebutkan bahwa “sebaik-baik manusia adalah yang terbaik di antara mereka akhlaknya. Akhlak merupakan hasil dari refleksi perangkat batin dalam diri manusia. Akhlak merupakan perpaduan antara badan dan batin manusia. Menyantuni fakir miskin adalah mulia, jika pemberian itu atas dasar kasih sayang dan karena Allah Ta’ala. Memberi bantuan tersebut merupakan akhlak yang mulia. Lain jika memberi karena ingin di puji, atau selain karena Allah, secara dhohir memberi bantuan tersebut termasuk terpuji namun jauh dari akhlak yang mulia.

Ibarat kelapa, akhlak yang mulia adalah santan yang gurih. Santan yang baik dihasilkan dari proses tidak mudah. Begitu pula dengan akhlak yang mulia. Dibutuhkan teknik yang baik untuk menghasilkan akhlakul karimah. Eknologi yang dibutuhkan yaitu teknologi kalimat thoyyibah Laa ilaaha illa Allah. Dengan dzikir ini akan menuntun menjadi manusia yang berakhlak mulia. Tentulah bukan hanya diucapkan di lisan namun juga di mantapkan dalam hati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia yang sadar bahwa dirinya milik Allah tentunya akan berusaha sekuat tenaga akan menjalani hidup sesua Al-Qur’an dan sunah, manusia yang sadar bahwa tidak ada ilah selain Allah tentunya kehidupan akhiratlah yang diutamakannya.

Di bulan yang penuh keberkahan ini, marilah kita mengasah diri dan memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik di mata Allah. Di bulan yang penuh kemuliaan ini marilah kita berkomitmen menjadi manusia yang berakhlak mulia dan semoga bisa mempersembahkan “santan terbaik” bagi umat. Marhaban Yaa Romadhon…

Penulis adalah mahasiswa jurusan biologi angkatan 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar